PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) akan menambah tiga kapal penumpang baru yang dibiayai melalui penyertaan modal negara (PMN). Penambahan armada ini dimaksudkan untuk menggantikan kapal-kapal tua yang umurnya sudah melebihi batas teknis. Ketiga kapal tersebut akan dioperasikan di wilayah Indonesia Timur.
Ketidakmampuan kita membiayai investasi dan penggantian alat produksi secara mandiri membuat kehadiran pemerintah diperlukan, kata Direktur Utama PT Pelni Tri Andayani dalam rapat dengar pendapat di Komisi XI DPR, Senin, 9 Februari 2026.
Skema pengadaan kapal Program baru ini sudah berjalan sejak tahun 2024 melalui penyertaan modal negara sebesar Rp 1,5 triliun. Anggaran ini digunakan sebagai uang muka pengadaan tiga kapal penumpang.
Dan pada tahun 2025, kita akan menerima penyertaan modal negara sebesar Rp2,5 triliun berdasarkan PP Nomor 53 Tahun 2025 dengan tujuan untuk penugasan pembayaran pengadaan 3 kapal penumpang untuk PMN 2024, kata Andayani.
Andayani menjelaskan, latar belakang penerapan PMN tidak lepas dari kondisi armada Pelni yang sudah berusia tua. Dari total 26 kapal penumpang yang dioperasikan perseroan, pada 2026 sebanyak 16 kapal berusia di atas 30 tahun, sedangkan 22 kapal lainnya berusia di atas 25 tahun. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan operasional terhadap keselamatan pelayaran.
Selain faktor umur kapal, Andayani mengatakan transportasi laut memiliki peran strategis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Saat ini, dengan 26 kapal penumpang, Pelni melayani sekitar 350 pelabuhan dan 1.100 jalur pelayaran di seluruh Indonesia.
Menurut Andayani, mayoritas penumpang Pelni berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah sehingga ruang gerak perusahaan untuk menaikkan tarif sangat terbatas. Total kebutuhan investasi ketiga kapal baru tersebut diperkirakan sebesar Rp 4,5 triliun dengan asumsi harga masing-masing kapal berkisar Rp 1,5 triliun.
Dari jumlah tersebut, Pelni telah menerima PMN sebesar Rp4 triliun, sedangkan sisanya berasal dari dana internal perusahaan.
Andayani menambahkan, pengadaan kapal tersebut dilakukan secara bertahap. Kapal pertama yang akan dibangun dijadwalkan menggantikan KM Umsini pada semester II tahun 2026 hingga semester II tahun 2028.
Secara paralel, kapal kedua akan menggantikan KM Kalimutu pada periode 2027-2029, disusul kapal ketiga menggantikan KM Lawit pada semester II tahun 2027 hingga semester II tahun 2029. “Ketiganya akan melayani rute Indonesia tengah dan timur,” ujarnya.