Jakarta –
Staf ahli Menteri Bisnis dan Investasi di Kementerian Industri, Doddy Rahadi, mengundang generasi muda untuk memainkan peran penting sebagai agen perubahan di era digital melalui pelestarian Batik. Dia menekankan bahwa keberlanjutan dimulai dengan generasi muda, karena mereka menjadi titik awal serta pendorong utama melalui inovasi dan semangat keberlanjutan.
“Keberlanjutan dimulai dari generasi muda. Dengan inovasi dan keberlanjutan, kita dapat memaksimalkan potensi generasi muda untuk mengimplementasikannya di era digital ini,” kata Doddy Rahadi, di Talkshow Talkshow Nusantara Batik (GBN) di Pasaraya Blok M, Jakarta (01/08/2025).
Dia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografis, yang merupakan kondisi ketika sebagian besar populasi berada dalam usia produktif 67,5 persen. Dalam kelompok usia yang produktif ini, generasi muda dianggap memiliki peran penting sebagai kekuatan pendorong ekonomi dan juga dalam pelestarian budaya nasional, salah satunya adalah melalui batik.
Gulir untuk melanjutkan konten
“Dengan potensi ini, setidaknya satu orang memiliki tiga batik, maka kita dapat menggerakkan ekonomi. Dengan energi, kreativitas, dan semangat inovasi dari generasi muda Indonesia, kami juga memiliki peluang besar untuk pelestarian budaya lokal melalui batik,” katanya.
Menurut Doddy, sejauh ini Batik sering dipandang sebagai pakaian khas generasi yang lebih tua. Untuk alasan ini, ini mendorong inovasi untuk menghadirkan desain batik yang lebih segar dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.
“Kami terus berpikir tentang bagaimana membuat desain batik yang dapat digunakan setiap hari dan relevan dengan gaya hidup generasi muda saat ini. Agar tidak takut terlihat tua karena Batik memang menjadi merek dagang dari orang tua yang menggunakannya. Tetapi jika ini dibuat lebih bervariasi, itu lebih relevan dengan gaya hidup anak muda.
Tidak hanya menggunakan, kaum muda juga diundang untuk merasakan secara langsung nilai -nilai yang terkandung dalam batik, mulai dari pengrajin yang mengenal, memahami pewarnaan alami, hingga menjalani filosofi motif mereka. Kunjungan ke pusat industri Batik yang ramah dianggap mampu membangun kedekatan emosional yang lebih kuat, jadi mereka bukan hanya konsumen, tetapi juga konservasi.
“Orang -orang muda senang dengan visual, senang dengan sesuatu yang mudah ditangkap dan dicerna. Jika mereka berhasil memahami proses pembuatan batik, maka ditambah dengan narasi yang baik tentang pengrajin, pewarna alami, dan filosofi motif, itu akan lebih ke dalam hati mereka. Dari sana, akan tumbuh bahwa batik adalah sesuatu yang penting untuk dipelihara,” katanya.
Selain itu, keterlibatan kaum muda juga perlu diperluas melalui kolaborasi lintas -sektor. Konsep pentahelix adalah kunci, di mana pemerintah, industri, lembaga pendidikan, media, dan komunitas budaya bekerja bersama dalam mendukung pelestarian Batik secara keseluruhan.
“Kita harus membangun hubungan emosional yang lebih dalam. Ini bukan hanya tugas satu pihak. Harus ada kolaborasi dari pemerintah, pemain industri, pendidikan, media, untuk masyarakat. Semuanya perlu bergerak bersama untuk menjaga Batik tetap hidup dan dikenal, tetapi juga di mata dunia,” tambahnya.
Sebagai informasi, acara Batik Nusantara Batik (GBN) 2025 yang diadakan oleh Kementerian Industri diadakan dari Rabu, 30 Juli hingga Minggu, 3 Agustus 2025, di Pasaraya Block M. Serangkaian kegiatan yang berlangsung lima hari termasuk upacara pembukaan, pembicaraan dengan figur batik, peragaan busana, lokakarya kreatif, pertunjukan Batik, untuk pertunjukan musik.
(PRF/EGA)