Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bekerja sama dengan PT Moosa Genetics Farmindo dan IPB University untuk berkembang Sapi Merah Putih. Sapi ini akan secara resmi diluncurkan di pameran Flona 2025 di Banteng Field, Jakarta, pada hari Jumat, 29 Agustus 2025.
Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas Teni Widuriyanti mengatakan inovasi sapi merah dan putih bertujuan untuk meningkatkan kualitas genetik sapi lokal Indonesia. Harapan, sapi perah ini dapat mendukung ketahanan pangan. “Kerjasama ini dilakukan untuk beberapa waktu, dalam konteks kerja sama pembangunan nasional, terutama mendukung swasembada makanan dan program makan nutrisi gratis,” kata Teni dalam briefing media di kantor Bappenas, Jakarta, Kamis, 28 Agustus 2025.
Wakil untuk makanan, sumber daya alam, dan lingkungan Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo menambahkan, kerja sama dengan genetika PT Moosa Farmindo sejalan dengan peraturan presiden nomor 12 tahun 2025 tentang Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Menurutnya, inovasi ini dapat mendukung tiga target pemerintah utama selama lima tahun ke depan, yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengurangi kemiskinan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Teguh juga menyoroti produksi susu sapi Indonesia yang masih tertinggal dengan negara lain. Pada tahun 2023, Indonesia masih berada di peringkat ke -76 untuk produksi susu sapi segar dengan volume 837,2 ribu ton. Sementara itu, produktivitas ternak susu Indonesia berada di 209 dengan volume 103,94 kilogram per kepala per tahun. “Inovasi dari genetika PT Moosa Farmindo berharap untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pertanian ternak global,” kata Teguh.
CEO Pt Moosa Genetika Farmindo Deddy Fachruddin Kurniawan menjelaskan, sapi merah dan putih dikembangkan melalui seleksi genom. Melalui seleksi genomik, sapi yang baru lahir dapat secara langsung diidentifikasi dengan genetik untuk mengetahui potensi produktivitasnya. “Kami melihat bahwa seleksi genom ini adalah kunci untuk dapat menghasilkan sapi produktivitas tinggi di Indonesia,” kata Deddy.
Deddy juga menyoroti sejumlah masalah yang dihadapi oleh industri sapi perah Indonesia. Pertama, dia mengatakan Indonesia tidak memiliki sapi perah asli. Kedua, produksi nasional industri sapi perah hanya mencapai 20 persen dari total kebutuhan.
Ketiga, 80 persen sapi perah di Indonesia dikelola oleh petani komunitas yang skala kepemilikannya di bawah lima. Total populasi sapi saat ini adalah 540 ribu, yang sebanyak 432 ribu ekor berasal dari peternakan orang. Kondisi tropis keempat adalah tantangan bagi industri sapi perah. Kelima, kualitas genetik sapi perah Indonesia sangat beragam.
Menurut Deddy, penelitian yang dilakukan oleh Moosa menyimpulkan bahwa sapi merah dan putih memiliki potensi untuk menghasilkan 2,3 kali lebih banyak susu daripada sapi di Indonesia secara umum. “Jika sapi merah dan putih diterapkan di semua peternakan orang dengan asumsi populasi saat ini, potensi di Indonesia dapat menghasilkan susu tiga kali lebih banyak secara nasional dalam lima tahun,” katanya.
Opsi Editor: Limbah Makanan Bundar Ala foodcycle