Tempo.co, Jakarta – Kementerian Perhubungan (KEMENHUB) Masih meninjau proposal tingkat aplikator transportasi online sebesar 10 persen. Diskon tarif maksimum adalah 10 persen adalah permintaan untuk asosiasi pengemudi Ojek online atau Ojol. Tuntutan dibuat berulang kali, termasuk ketika Ojol rally pada hari Selasa, 20 Mei 2025.
Direktur Jenderal Transportasi Tanah Kementerian Transportasi Aan Suhanan mengatakan Kementeriannya sedang melakukan survei dan dalam studi -Depth. Menurutnya, kebijakan untuk menentukan tarif aplikator 10 persen harus dilakukan dengan hati -hati. Alasannya, banyak ekosistem telah dibangun dari taksi sepeda motor online.
“Menteri (transportasi) ingin ekosistem ini dipertahankan karena banyak pekerjaan karena transportasi taksi sepeda motor online ini,” kata Aan selama pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat V pada hari Senin, 30 Juni 2025, dikutip dari saluran YouTube dari House of Representatives Commission V Channel.
AAN mengatakan, ada lebih dari satu juta mitra pengemudi di ekosistem transportasi online. Selain itu, ada 25 juta usaha mikro dan kecil dan menengah (MSMS).
Dia menargetkan hasil studi tentang tarif 10 persen yang diusulkan dapat dirilis dalam waktu dekat. Dia juga menyatakan bahwa dia akan melakukan sosialisasi sehingga tidak ada partai yang dirugikan. “Itu berarti, kita semua ditampung, baik dari mitra, UMKM, dan aplikator sendiri. Kami meminta waktu,” katanya.
Sementara itu, aturan yang berlaku dari Kementerian Transportasi adalah diskon tarif maksimum 20 persen. Namun, sejumlah asosiasi pengemudi OJOL mengurangi diskon maksimum 10 persen karena ada dugaan pelanggaran diskon tarif dari aplikator.
Ketua Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia Igun Wicaksono mengatakan bahwa partainya memilih nomor 10 persen setelah dibandingkan dengan diskon tarif di negara lain, seperti Malaysia yang hanya 6 persen.
Menurutnya, tidak ada negara yang menetapkan aturan tarif lebih dari 10 persen. “Kami masih memberikan kesempatan bagi mereka (aplikator) untuk mendapat manfaat,” katanya ketika bertemu setelah audiensi publik dengan Dewan Perwakilan Rakyat V di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 21 Mei 2025.
Namun, aplikator menolak tuntutan ini. Spesialis Hubungan Pemerintah Maxim Indonesia Muhammad Rafi Assagaf Diskon tarif 10 persen akan berdampak pada ekosistem transportasi online. “Karena akan sulit untuk inovasi,” katanya dalam pertemuan dengan Menteri Transportasi di Jakarta Tengah pada hari Senin, 19 Mei 2025.
Hal yang sama disampaikan oleh Kepala Urusan Publik Raih Indonesia Tirza R Munusamy. Dia mengklaim diskon tarif yang telah 20 persen, salah satunya digunakan untuk pengembangan teknologi.
Selain itu, untuk keselamatan melalui pembiayaan asuransi untuk mitra pengemudi dan penumpang. Penggunaan lain, yaitu untuk program bantuan operasional untuk pengemudi OJOL. “Misalnya, penggantian oli, ban patch. Untuk meringankan mitra pengemudi harian,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Transportasi (Wamenhub) Suntana mengakui bahwa ada kebutuhan untuk terobosan hukum untuk mengatasi sejumlah dinamika dan masalah yang berkaitan dengan Ojol. “Disarankan agar Kementerian Transportasi, kemudian dapat membuat terobosan hukum yang dapat digunakan sebagai pedoman seperti yang dilakukan sebelumnya,” katanya, seperti dikutip dari Di antara.
Suntana mengatakan bahwa undang-undang diperlukan sebagai peraturan komprehensif untuk memberikan solusi yang paling tepat untuk mitra pengemudi OJOL, perusahaan layanan berbasis aplikasi (aplikator), pemerintah, kepada publik sebagai pengguna layanan.
Tetapi perumusan undang -undang membutuhkan waktu yang lama sebelum akhirnya dikeluarkan dan disetujui. “Sebelumnya, ketua Komisi Dewan Perwakilan Rakyat V (Lasarus) mengatakan bahwa ini harus dimasukkan dalam hukum. Tetapi, teman -teman juga mendengar sangat keras untuk menyusun hukum,” katanya.
Lima tuntutan mitra pengemudi Ojol selama demonstrasi besar -besaran pada Mei 2025 tetap menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Transportasi, katanya, akan mempelajari lebih dalam masalah ini, termasuk masalah jumlah tarif, diskon untuk aplikasi, sampai keberadaan layanan 'menghemat' yang dikatakan hanya memberikan kompensasi kepada mitra Rp 5.000 per pesanan.
“Nanti kita akan belajar, itu (Argo Rp. 5.000) juga merupakan salah satu masalah yang memang disampaikan oleh teman pasangan,” katanya.