Tempo.co, Jakarta – Asosiasi Hotel dan restoran Indonesia (Phri) mengungkapkan dampak negatif dari kebijakan pemotongan anggaran pemerintah pada industri perhotelan yang lamban di negara ini. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kementerian dan lembaga untuk memotong anggaran perjalanan resmi (Perdin) hingga 50 persen.
Sejak melingkar penghematan anggaran Perdin dikeluarkan oleh Menteri Keuangan pada 7 November 2024, Phri mencatat sebagian besar kinerja keramahtamahan yang menurun awal tahun ini. Berdasarkan survei yang dihadiri oleh 726 pemain industri perhotelan di 30 provinsi, 83 persen responden melaporkan kinerja hotel tidak membaik hingga Januari 2025.
“Ini menunjukkan bahwa pengurangan dalam anggaran perjalanan resmi pemerintah dan melemahnya kegiatan tikus telah mengganggu keseluruhan dinamika pasar,” Christy Megawati, ketua penelitian dan pengembangan dan FRI pada konferensi pers di Grand Sahid Hotel, Jakarta, pada hari Sabtu, 22 Maret 2025.
Tikus adalah bisnis di bidang pariwisata yang mencakup kegiatan Rapat, insentif, konvensi, Dan Pameran disingkat sebagai tikus. Mengacu pada hasil survei, yang dihadiri oleh 717 hotel dengan kapasitas total 127.684 kamar, sebanyak 85 persen pemain industri menilai kinerja hotel mereka pada Januari 2025 jauh lebih buruk daripada pada Januari 2024.
Menurut Christy, pemain industri hotel pada awalnya optimis bahwa kinerja mereka akan meningkat, tetapi dari Februari hingga Maret 2025 tren pasar cenderung pesimis. Christy mengatakan sebanyak 30 persen responden menderita kehilangan pendapatan lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Christy mengatakan pertunjukan hotel yang sangat terpengaruh Bagikan MarkeT 5-7 persen dari bisnis hotel. “Dan sektor tikus mencapai 6-21 persen yang menurun secara dramatis,” lanjut Christy.
Menurutnya, dampak terburuk dirasakan oleh hotel dan daerah kelas menengah atas yang bergantung pada permintaan dari sektor pemerintah. Dia menjelaskan bahwa pemain industri hotel menyoroti penurunan permintaan bisnis tikus akan menyeret penurunan tarif kamar dan kompetisi harga. Dia khawatir itu akan membuat pasar tidak stabil dalam jangka panjang.
Berdasarkan temuan ini, ketua Asosiasi Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani mendesak pemerintah untuk segera menghabiskan anggaran perjalanan resmi di sektor perhotelan. Hariyadi mengklaim bahwa sampai hari ini tidak ada hunian hotel yang berasal dari sektor pemerintah.
“Kami berharap pemerintah untuk segera menggunakan, mengeksekusi (alokasi anggaran) 50 persen, ya, itu akan segera menjalankannya, karena jika semakin lama dampaknya akan ada di mana -mana,” kata Hariyadi. Dia mempertimbangkan tidak hanya industri hotel yang dipengaruhi oleh efisiensi anggaran, tetapi juga sektor penerbangan ke transportasi regional.
Sri Mulyani sebelumnya mengeluarkan surat edaran penghematan perjalanan resmi untuk para menteri dan pejabat pada 7 November 2024. Surat itu berjumlah S-1023/Mk.02/2024 meminta kementerian dan lembaga untuk memotong anggaran Perdin sebesar 50 persen.
Tujuannya adalah agar kementerian dan lembaga melakukan efisiensi pengeluaran di tahun fiskal yang tersisa. Surat itu ditujukan kepada Menteri Kabinet Merah dan Putih, Jaksa Agung, Kepala Polisi, Kepala Institusi Pemerintah Non -Ministri, kepada Pemimpin Sekretariat Lembaga Negara.
Presiden Prabowo pada beberapa kesempatan juga telah menyampaikan daya tarik tabungan ke jajaran kabinet merah dan putih. Ini disampaikan di kepala acara Apple Unit Kepolisian Nasional di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah. “Sekali lagi, simpan, kurangi limbah. Kurangi upacara, tidak terlalu banyak (perayaan) ulang tahun,” kata presiden pada hari Rabu, 11 Desember 2024.
Eka Yudha Dan Ilona Estherina Berkontribusi pada penulisan artikel ini.