Ketua Forum Masyarakat Adat Malind Kondi Digoel Simon Petrus Balagagaze mengatakan keberadaan Proyek Strategis Nasional (Psn) Di sejumlah daerah menimbulkan berbagai masalah seperti sosial ekonomi. Menurutnya, penduduk setempat mengalami penurunan kesejahteraan karena hilangnya mata pencaharian setelah PSN hadir dalam sumber mata pencaharian mereka.
Petrus memberi contoh dampak PSN pada kondisi ekonomi sosial di Papua. “Produk hutan yang digunakan untuk mendukung ekonomi lokal sekarang sudah tidak ada lagi. Hutan dihancurkan ribuan hektar, seperti di Merauke 2,2 juta hektar, tetapi masyarakat tidak mendapatkan apa -apa,” katanya ketika bertemu ketika bertemu Tempo di Gedung Pengadilan Konstitusi pada hari Senin, 25 Agustus 2025.
Menurutnya, hutan yang dulu berfungsi sebagai 'supermarket' alami untuk penduduk, tempat untuk memancing, berburu, dan mendapatkan makanan sekarang hilang seiring dengan perkembangan besar -besaran di lokasi PSN. Akibatnya, gaya hidup orang berubah secara drastis. “Sudah satu tahun hutan dihancurkan, tetapi belum ditanam dengan beras. Hanya seperempat yang ditanam, bahkan itu pencitraan. Penghasilan makanan dan penurunan kehidupan masyarakat,” katanya.
Dia menambahkan, hilangnya hutan membuat orang kehilangan pekerjaan alternatif. Sebagian besar penghuni yang telah bergantung pada produk alami tidak lagi memiliki akses yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari -hari mereka. “Kehidupan ekonomi lokal menurun tajam, orang tidak memiliki pekerjaan lain. Penghasilan dari hutan dan alam yang biasanya mendukung kehidupan mereka sekarang tidak ada lagi,” katanya.
Petrus berharap bahwa pemerintah akan memperhatikan kondisi sosial-ekonomi penduduk yang terkena dampak PSN sehingga pembangunan tidak hanya menguntungkan beberapa partai, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi rakyat. “Pemerintah dan presiden harus memberikan keadilan kepada rakyat Indonesia,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Lestari Forest Circle Association (PLHL) Nasrullah mengatakan, keberadaan proyek PSN di Kalimantan Utara, sebaliknya membuat orang kehilangan mata pencaharian mereka. Mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani dan nelayan dilarang melakukan kegiatan di darat dan laut. Menurutnya, sudah ada lima orang yang ditangkap karena berusaha mempertahankan tanah mereka. “Orang tidak bisa lagi berkebun, laut juga terbatas, bahkan intimidasi,” katanya.
Perwakilan dari Nasrullah Lestari Forest Circle Association (kiri), dan Arman, seorang penduduk Mangkupadi dari Kalimantan Utara, setelah memberikan informasi pada sesi lebih lanjut dari pekerjaan Tes Hukum Cipta Cipta di Pengadilan Konstitusi, 25 Agustus 2025. Tempo/Dandi Bajuddin di Pengadilan, 25 Agustus 2025. Tempo/Dandi Bajuddin, 25 Agustus 2025.
Nasrullah mengatakan, kondisi ini membuat para korban PSN langsung mendesak dalam memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu, katanya, kondisi ini memaksa beberapa warga untuk beralih profesi dengan meminjam uang dari bank untuk membangun rumah sewaan atau asrama untuk pegawai industri.
Alih-alih mendapatkan keuntungan, penduduk benar-benar kehilangan uang karena perusahaan melarang karyawan mereka untuk menyewa rumah asrama milik masyarakat. “Hari ini perusahaan PT Tri Nusa Gemilang, Pt Kipi, sebenarnya melarang karyawannya untuk berkontraksi di rumah -rumah warga. Jadi selain kehilangan mata pencaharian, mereka juga berhutang karena mereka membayar cicilan bank,” jelasnya.
Situasi ini menciptakan masalah baru. Dari awal kehidupan tergantung pada darat dan laut, masyarakat sekarang harus menanggung beban hutang karena bisnis sewaan yang tidak lagi diproduksi. Kondisi -kondisi ini menunjukkan bagaimana proyek industri besar tidak hanya merebut tanah, tetapi juga mengikis fondasi ekonomi lokal yang telah lama mendukung kehidupan masyarakat.