Tanggapan terhadap berbagai pihak tentang keinginan Prabowo Ekspor Beras

Tempo.co, JakartaPresiden Prabowo Subianto membuka izin ke Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinasi untuk Divisi Pangan untuk melakukan ekspor beras di luar negeri.

“Saya mengizinkannya dan saya memerintahkan untuk mengirim beras kepada mereka (negara -negara lain),” kata Prabowo saat menghadiri agenda gerakan gerakan Indonesia yang diprakarsai oleh Ustadz Adi Hidayat di desa Sungai Pinang, BanyUasin Regency, Sumatra Selatan, pada hari Rabu, 23 April 2025.

Menurut Prabowo, Ekspor Beras Ini harus dilakukan berdasarkan kemanusiaan, bukan untuk manfaat ekonomi. Prabowo mengatakan bahwa jika Indonesia tidak mau mengambilnya untuk pengiriman besar sebagai bukti bahwa Indonesia telah menjadi negara mandiri yang mampu membantu negara lain. “Yang penting adalah biaya produksi, transportasi, dan administrasi dapat kembali.”

Keputusan diambil setelah Prabowo menerima laporan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinasi untuk Makanan untuk Permintaan Sejumlah Negara yang berharap bahwa Indonesia akan dapat mengirim berat mengingat Indonesia memiliki surplus produksi. Namun, pernyataan Prabowo terkait dengan ekspor beras menuai berbagai tanggapan dari berbagai pihak.

  1. Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Ekonom Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori tidak menyetujui langkah Prabowo untuk mengekspor beras meskipun dikonfirmasi bahwa produksi beras domestik dalam beberapa bulan terakhir telah mengalami surplus dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Situasinya masih sangat berisiko jika Indonesia mengalami ruam mengekspor beras ke Malaysia atau negara lain,” kata Khudori pada hari Sabtu, 26 April 2025.

Khudori mengatakan jika pemerintah harus menghitung produksi dalam satu tahun penuh dan tidak menarik kesimpulan surplus beras Apakah panen panen panen atau tidak, misalnya selama musim panen yang umumnya terjadi pada bulan Februari-Mei. Alasannya adalah bahwa bagian produksi pada saat ini dapat mencapai 60-65 persen produksi per tahun.

  1. Kementerian Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan bahwa pemerintah tidak merencanakan untuk mengekspor beras meskipun produksi dalam negeri melonjak tajam untuk mencapai 3,18 juta ton. Menurut Amran, partainya menekankan lebih banyak tentang pentingnya memperkuat cadangan beras nasional terlebih dahulu untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia.

“Kami mencoba diperkuat terlebih dahulu,” kata Amran selama pertemuan koordinasi nasional dengan 37 ribu instruktur pertanian yang dilakukan hibrida Di Jakarta, pada hari Sabtu, 26 April 2025.

Amran mengatakan bahwa jika ekspor beras baru akan dipertimbangkan jika kebutuhan domestik benar -benar dipenuhi. Amran mempertimbangkan tantangan iklim global yang dapat memengaruhi stabilitas produksi pangan domestik.

“Yang penting adalah kita cukup domestik. Kita harus siap untuk kecukupan kita, jika perlu kita mempersiapkan itu benar -benar lebih dari cukup. Mengapa? Iklim tidak ramah,” katanya.

  1. Badan Makanan Nasional (Bapanas)

Kepala Badan Makanan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan bahwa ekspor beras hanya dapat dilakukan setelah pemerintah memastikan bahwa cadangan makanan cukup dalam memenuhi kebutuhan makanan domestik.

“Kami masih menyiapkan cadangan makanan kemarin. Sekarang dipanen, kami menyimpannya terlebih dahulu. Jika kemudian cadangan makanan sudah cukup, (dapat ekspor),” kata Arief ketika bertemu di kantornya, pada 29 April 2025.

Arief mengungkapkan bahwa grafik produksi beras menanjak. Setelah panen pada bulan Mei, grafik memiliki kesempatan untuk turun. Dengan produksi ini, pemerintah akan menghitung kemampuan cadangan makanan untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun.

“Presiden kami berkata, tolong ekspor. Jika saya sarankan kami harus memenuhi cadangan makanan terlebih dahulu. Maka kami akan menghitung lagi, jika kami harus,” katanya.

Sumber berita

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *